Posted in Horror, PG-15, Thriller, Twoshot

[1st Walkin’ in The Brain] Mauvais Destin (1/2)

mauvais destin poster

Mauvais Destin

thehunlulu ©2016

 [MONSTA-X] Son Hyunwoo & Yoo Kihyun — Thriller, Horror/Twoshot/PG-15

Other cast will revealed soon!

.

Ketika takdir menghendaki Hyunwoo dan Kihyun untuk bertemu kembali dalam sebuah konflik yang belum tertutup dengan sempurna.

***

-Mauvais Destin-

Seorang pemuda terpekur pada posisinya yang meringkuk, beralaskan ubin kayu yang berderit ketika dipijak. Ekor matanya menerawang dalam kegelapan mengenai sebuah takdir yang serta merta membuatnya harus menjalani kehidupan berlatarkan dusta. Dunia seakan tidak lagi menyisakan ruang baginya untuk menyemai kehidupan, jadilah ia di sini; ruangan berbentuk balok yang langit-langitnya sangat rendah, penerangan pun sudah aus dimakan waktu. Kesehariannya hanyalah berkhayal, menghilangkan bosan dengan berdelusi akan teman satu-satunya yang ia miliki.

“Berhenti bersuara, James,” katanya, selagi tangan kanannya beradu dengan ranting pohon yang baru saja jatuh dari celah ventilasi. “Belum saatnya kau melepasku di sini sebelum aku menyuruhmu untuk tinggal di tempat tinggal barumu,” lanjut pemuda itu dengan suara yang gemetar dan nanar, lalu direbahkan tubuh kurusnya pada salah satu sisi ruangan sembari merapatkan pakaiannya.

“Ini mantra khusus, Bung. Jadi biarkan aku sibuk mempersiapkan hal ini sebelum kau menyesal nantinya. Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu.”

Tidak ada jawaban, hanya sebuah dengkuran yang mengudara dan sesekali rintihan menggigil dari sang pemuda. Beserta kayu lapuk yang tidak berhenti menciptakan suara, sang pemuda terbangun kembali, bola matanya berotasi untuk menilik kawannya yang sedikit berjingkat dengan wajah pualamnya yang memancarkan kedamaian. Kemudian, pandangannya beralih pada salah satu celah ventilasi yang cukup untuk dijangkau oleh uluran tangan, ia memandang sebentar ke arah seberkas cahaya yang lolos dari luar. Rembulan tetap melaksanakan tugasnya pada malam hari, membuat lelaki itu kembali meringkuk memejamkan matanya.

“Omong-omong aku ikut sedih dengan keadaanmu, Bung. Kenapa kau harus bersusah payah membuatkanku tempat tinggal baru sementara dirimu betah tinggal di sini?” Kawannya menghentikan jingkatannya sejemang, ia duduk bersila di samping tubuh sang pemuda yang baru saja terlelap, memandang secercah kedamaian pada raut polosnya saat tertidur. “Omong-omong—“

“James… tolong jangan berbicara lagi,” gerutuan sang pemuda meluncur malas, ia merengek kemudian guna meminta beberapa jam saja untuknya beristirahat. “Ada di ujung ruangan sebelah kanan, cari saja sendiri, tapi hati-hati masih basah.”

Dan kawannya menghilang, sang pemuda melanjutkan petualangannya ke alam mimpi walaupun kedua telinganya sayup-sayup mendengar aktivitas kawannya di ujung ruangan. Sebuah senyuman terpatri samar, setidaknya tidur bisa membuatnya lebih baik.

-Mauvais Destin-

13 Market St, Toronto, 09:05 AM

Gelak tawa menguar dari kedua belah bibir sepasang karib yang tengah duduk berhadapan. Berniat untuk memesan dua porsi ayam goreng untuk masing-masing, keduanya menyibukkan diri dengan segenggam kartu remi yang mengiringi kebosanan. Hingga pesanan mereka datang, sebuah senyuman merekah pada paras mereka.

“Oke oke, hentikan sejenak dan kita sarapan terlebih dahulu, ya.”

“Hahaha baiklah, jangan lupa jika setelah ini giliranku, ya!” tukas salah satu pemuda yang bertubuh lebih kekar dari kawannya. Ia menyesap satu gelas minuman soda sebelum pandangannya melesat keluar jendela sementara tangannya mengambil satu potong dada ayam untuk dilahap.

Di sanalah dua orang pemuda itu menikmati hari liburnya. Pada sebuah restoran ayam goreng yang terletak di sepanjang area perbelanjaan di pusat Kota Toronto. Biasanya, mereka mengambil bangku paling ujung—dekat dapur—dengan mengesampingkan area restoran yang bisa dibilang cukup luas. Namun nyatanya hari ini mereka duduk di bangku paling tengah yang terletak tak jauh dari kasir.

“Hyunwoo lihatlah!” Si empunya nama kemudian menoleh mengikuti arah telunjuk temannya. Hyunwoo mendongak, mendapati sebuah televisi di atasnya yang tengah menyiarkan berita khas hari Senin.

Hyunwoo mencebik, menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berbalik. “Dibayar berapa, ya restoran ini, Won? Setiap hari selalu saja menayangkan berita tidak bermutu seperti itu,” cibirnya disusul sepotong telur mata sapi yang menyambangi mulutnya. “Sudahlah Wonho, cepat habiskan makananmu lalu kita pergi nge-gym bersama!”

“Hei hei hei! Dengarkan dulu, Bung!” sergah Wonho menepuk-nepuk lengan kekar Hyunwoo, mendorong tubuh kawannya dan memaksa untuk mendongak sekali lagi guna mendengarkan rentetan kalimat yang diutarakan si pembawa acara.

“Iya iya aku melihatnya, bodoh!”

Lima sekon berlalu, Hyunwoo yang awalnya masa bodoh dengan sebuah televisi yang tersemat pada sisi dinding kali ini hanya bisa melongo. Begitupula dengan Wonho yang juga mematung disertai uluran tangannya yang mencomot segenggam kentang goreng dari atas meja.

Detik berikutnya Hyunwoo berbalik, merotasikan kedua bola matanya hingga saling bersitatap dengan Wonho dalam kegundahan seraya sebelah alis yang terangkat maksimal. “Won, pemerintah sudah gila atau apa? Kasus orang hilang pencariannya akan segera ditutup dalam kurun waktu tiga hari?”

Wonho sibuk mengunyah kentang gorengnya, sambil sesekali menggeleng tak percaya. “This is crazy, Bro. Ini sungguh gila! Bagaimana bisa kasus orang hilang dikatakan sebagai kasus ringan? What’s going on with our government?” gerutu Wonho mengangkat salah satu telapak tangannya untuk memberikan tepukan ringan pada keningnya.

Sementara Hyunwoo melepaskan pandangannya dari tingkah konyol Wonho, kedua netranya bersirobok dengan presensi pemuda jangkung berbalut pakaian kepolisian yang sedang mengantre sendirian di barisan kasir. “Won, ayo cepat pergi dari sini,” bisikan serak menggema, menarik atensi Wonho untuk mengutarakan raut wajah hei-apa-maksudmu-Bung pada Hyunwoo.

Decitan kursi yang beradu dengan lantai tercipta saat dengan kecepatan kilat Hyunwoo merengkuh pergelangan Wonho dan melesat pergi dari tempat itu.

“Sialan kau! Membuatku ingin muntah saja! Ada apa, sih?”

Hyunwoo mengehela napas berat sambil menatap langit, kemudian mengajak Wonho mendekati sebuah kursi yang menganggur di ujung jalan. “Tidak apa-apa, Won, hehe.”

Wonho menenggak air mineralnya dari dalam botol lalu memiringkan tubuhnya selagi Hyunwoo memancarkan air muka cemas. “Katakan, kawan! Atau aku akan melaporkanmu pada atasan jika hari ini seorang Son Hyunwoo membolos kerja.” Wonho merogoh sakunya kemudian.

“Hei mentang-mentang mendapat cuti satu ming—“

Kriing!

“Halo?”

“Son Hyunwoo! Ada kebakaran besar di Baywiew Woods! Cepat kemari, kami tidak punya cadangan pekerja untuk mengemudikan mobil pemadam!”

“A-apa?! Baik saya akan segera ke sana!”

Pip!

“Won, pergilah ke tempat gym sendirian karena aku harus ke fire station sekarang. Titip alam untuk istrimu yang baru saja melahirkan, ya!” Sosok Hyunwoo melenggang menembus angin dan hilang di persimpangan jalan.

-Mauvais Destin-

Bayview Woods 12, Toronto, 09:38 AM

Namanya Son Hyunwoo. Pemuda dari garis keturunan bangsa Timur berumur dua puluh tiga tahun yang menjabat sebagai salah satu personel pemadam kebakaran di wilayah Toronto, Kanada. Tubuhnya proporsional khas pemuda pada umumnya. Jalannya tegap, serta otot bisep dan trisep yang menonjol pada kedua lengannya. Orang-orang melihatnya sebagai pemuda yang percaya diri dan juga tangguh dalam menjalankan profesinya—yang tidak jarang melakukan ekspedisi pada wilayah ekstrem sekalipun, yang dapat dilihat dari garis rahangnya yang tegas juga warna kulitnya yang sedikit kecoklatan.

Tubuh jangkungnya berangsur-angsur menunduk sesaat setelah dirinya mengarahkan persneling mobil dalam posisi parkir. Lompatan cukup tinggi ia kerahkan, kemudian bergegas memboyong selang raksasa dari salah satu rekannya yang berusaha mengalirkan air bertekanan tinggi dari atas truk pemadam. Jangkahan demi jangkahan dilewatinya, menimbulkan gema safety shoes yang berderap cepat menembus kobaran api pada halaman depan sebuah rumah yang hampir separuhnya hangus. Bising sirine mobil polisi pun tak dapat dihindari. Pasalnya, suara tersebut sudah lebih dahulu menginterupsi seluruh penjuru sebelum truk pemadam kebakaran sampai di depan sebuah bangunan tunggal yang terlihat seperti sebuah villa klasik yang berdiri di Provinsi Ontario.

“Son Hyunwoo melapor, sisi bangunan sebelah utara hangus tak tersisa namun percikan api diduga berasal dari lantai dua,” Hyunwoo mengedarkan pandang tiga ratus enam puluh derajat, meyakinkan kedua penglihatannya untuk tidak melewatkan setitik pun celah untuk luput dari jamahannya. Kepala ia tundukkan, mendekatkan kedua katup bibirnya untuk berbicara lewat handy talky yang tersemat pada tulang belikatnya. “Haruskah saya mencari tangga untuk menuju ke lantai dua?”

“Tetap pada posisi, Hyunwoo. Situasi sedang samar, pintu kematian bisa saja menelanmu di lantai dua jika terjadi sesuatu setelah ini.”

Hyunwoo mengangguk mantap kendati lawan bicaranya yang masih sibuk di luar bangunan tidak melihatnya sama sekali. Pemuda Son itu memusatkan pandang pada selang yang bertengger di tangan kanannya. “Baiklah,” ucapnya kemudian.

Tidak ada yang aneh dengan tempat yang sejatinya adalah villa klasik berumur hampir setengah abad itu. Sepanjang yang Hyunwoo lihat secara kasat mata, hanyalah partikel abu yang beterbangan bebas, permukaan dinding yang perlahan rapuh menyisakan sedikit kayu yang didominasi warna hitam, juga bau hidrokarbon beserta gas-gas lain hasil dari kebakaran.

Tiba-tiba secara tak sengaja Hyunwoo terhuyung mundur, gerakan refleks saat kedua rungunya menangkap rintihan samar seorang manusia entah dari sudut mana. Hyunwoo tak berhalusinasi pun berdelusi, matanya membelalak tanda awas seraya bergulir kesana-kemari. Beberapa jemang berdiri mematung, rintihan itu pun berhenti, namun disusul oleh suara khas deru napas orang yang sedang menangis tersedu-sedu.

“Hyunwoo melapor, ada korban selamat yang belum diketahui keberadaannya. Sekiranya percikan api kian mengecil, maka saya akan menyelamatkan korban tersebut.”

“Sekedar informasi, villa ini tidak dihuni oleh siapa pun jadi sama sekali tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.”

Bulu kuduk Hyunwoo meremang tanpa permisi. Tidak, tidak mungkin kedua telinganya bermasalah. Juga tidak mungkin Hyunwoo mengidap gangguan jiwa di mana dirinya selalu dirundung oleh ilusi yang ia ciptakan sendiri. Hyunwoo mengerjapkan matanya berkali-kali disusul punggung telapak tangannya yang masih setia mengucek-ucek indera penglihatannya. Kesadarannya masih penuh, juga ia bersikeras untuk mengatakan bahwa dirinya sedang mengantuk atau semacamnya.

“Hyunwoo!” Yang dipanggil membalikkan badan, menemukan tubuh menjulang rekannya yang meniti langkah cepat ke arah Hyunwoo. “Di lantai dua api masih bernyawa, cepat ke sana!”

Rekan berkulit putih dengan name tag bertuliskan ‘George’ yang tersemat di atas saku pun berlalu, meninggalkan Hyunwoo dalam tanda tanya besar. Selagi memandang punggung George yang kian menciut, Hyunwoo malah bergeming, masih dirundungi segudang asumsi perihal suara misterius yang tak lagi bergema ke segala penjuru.

“George, kapan terakhir kali villa ini disewa?” tanya Hyunwoo penuh penekanan, seakan mendesak George yang berderap cepat menyelesaikan beberapa anak tangga.

George menghentikan langkahnya, berbalik menurunkan pandangannya dan menatap Hyunwoo di bawahnya. “Mana kutahu. Setahuku villa ini dulunya memang rumah tetap jadi tidak disewakan secara bebas. Namun sekali lagi, itu pun kalau aku tidak salah dengar,” terang George meyakinkan Hyunwoo yang hanya manggut-manggut tanda mengerti.

Dan mereka pun menyelesaikan jangkahan terakhirnya, kini tubuh keduanya resmi berada di lantai dua sembari memutarkan kepala guna menengok kondisi rumah yang kosong melompong. Di hadapan kedua pemuda itu terdapat sebuah lorong dengan dua cabang ke kanan dan ke kiri, juga polesan beberapa lukisan yang tergantung sedikit semrawut pada sisi dinding yang menghadap mereka.

“Ah, selangnya tidak sampai,” keluh George ketika kedua cengkeraman tangannya berusaha menarik benda berbentuk silinder itu.

Hyunwoo menolehkan pandangannya—yang semula terpaku pada beberapa lukisan yang terpajang apik—menuju George yang tengah sedikit memberengut. “Aku baru sadar juga, kenapa kau tidak memadamkan api dari luar saja?” tanya Hyunwoo kemudian.

George menatap Hyunwoo lamat-lamat. “Villa ini tidak mempunyai ventilasi sedikitpun, personel pemadam kebakaran yang lebih dulu sampai saja harus mendobrak pintu depan dan belakang karena tidak ada akses agar air bisa masuk.”

Hyunwoo manggut-manggut untuk kedua kalinya. “Benar juga. Tapi, ini benar-benar aneh.” Hyunwoo memalingkan pandangannya, menerawang kosong langit-langit disusul kerutan pada dahinya. “Lalu siapa yang menyebabkan kebakaran besar seperti ini? Tidak mungkin jika ada seorang oknum yang iseng, kan?” lanjut Hyunwoo menggaruk hidungnya, rautnya memancarkan sarat kegundahan yang membuatnya berpikir sampai sejauh itu.

“Ah sudahlah. Lupakan, Hyunwoo,” tukas George menyibakkan telapak tangannya. “Oh, ternyata percikan apinya berasal dari sana!”

George berlalu, meninggalkan Hyunwoo yang hanya bisa memandangi punggungnya yang sedikit membungkuk kemudian berkutat dengan beberapa kabel yang menonjol keluar dinding. “Korsleting?” Hyunwoo berjalan mendekati George.

“Mungkin.”

Hyunwoo terdiam sejenak, mengamati kawannya kemudian berderap maju dan mengintip dua lorong yang terpisah itu. Tidak ada yang salah, lantai yang ia pijak saat ini benar-benar bersih. Dalam artian, hanya sebatas debu tebal yang menyelimuti dinding maupun lantai. Tidak ada tanda-tanda adanya kerusakan akibat kebakaran. Garis besarnya, sulutan api tidak menjalar hingga ke lantai dua.

Rasa penasaran Hyunwoo membuncah, kedua tungkai jenjangnya menuntun Hyunwoo untuk menjamah seisi rumah. Namun dengan jarak beberapa langkah, Hyunwoo tiba-tiba saja menemukan sebuah tangga yang menjulur ke bawah. Lehernya mendongak dan menemukan sebuah celah menuju loteng dengan dengan bentuk persegi cukup besar yang tercipta pada langit-langit. Seketika ia lupa jika rasa ingin tahunya sudah membuat dirinya melangkah hingga sejauh ini; seorang pemadam kebakaran yang sudah mengukir segudang analisis pada otak layaknya detektif.

Hyunwoo berusaha memastikan, apakah suara rintihan yang tak lama ia dengar berasal dari loteng tersebut atau hanyalah bualan otaknya belaka. Maka dengan salah satu tangan membenarkan helm yang ia pakai, segera saja kedua kakinya menaiki satu per satu anak tangga yang cukup aus tersebut.

Hingga sampai pada sebuah loteng yang sangat minim pencahayaan, indera penciumannya merasakan bau debu khas benda-benda lapuk yang tak lagi dijamah manusia. Hanya itu, tidak lebih maupun kurang. Kedua bola matanya memandang keadaan sekitar, memperhatikan beberapa perabotan rumah yang diletakkan sedikit berantakan. Di hadapannya terdapat sebuah lemari yang tidak terlalu tinggi, berwarna coklat dengan beberapa sisi yang lapuk dan sebuah kardus besar yang sedikit membuatnya kesulitan mengambil jalan untuk melangkah. Pada sisi dinding agak tinggi yang terletak sejajar dengan kepalanya terdapat dua celah ventilasi yang menghadap sebuah villa di depan rumah tersebut. Ia memandangi kakinya, lalu kedua matanya menggerayahi setiap titik kayu yang menjadi tempat pijakannya.

“Permisi.”

Hyunwoo tersentak. Ia membalikkan tubuhnya seratus delapan puluh derajat kemudian tersenyum kikuk, berusaha menutupi rasa kagetnya. “Maaf.”

“Oh, personel pemadam, ya?” tanya pria yang berdiri di hadapan Hyunwoo dengan ramah beserta seulas senyum yang berlabuh pada wajahnya. “Perkenalkan, namaku Yoo Kihyun, detektif polisi dari divisi lima puluh empat. Maaf membuatmu kaget.” Pria bernama Yoo Kihyun itu mengulurkan tangan kanannya untuk Hyunwoo.

“Ah, iya. A-aku Son Hyunwoo.” Hyunwoo menatap sejenak senyuman tak asing dari pria di hadapannya kemudian membalas uluran tangan Kihyun.

Kihyun tersenyum sempurna, membuat Hyunwoo harus ikut-ikutan mematri senyuman juga utuk detektif itu. Keheningan mendominasi selama beberapa detik hingga Hyunwoo akhirnya membuka suara, “Eum, menyelidiki insiden kebakaran juga?”

Kihyun terkikik mendengar penuturan Hyunwoo, membuat lawan bicaranya itu merasa payah karena tidak pandai melakukan basa-basi. “Benar, Hyunwoo.”

Hyunwoo hanya mampu tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ia mengangguk tanda mengerti, membuat Kihyun yang saat itu masih melakukan penyelidikannya menepuk bahu Hyunwoo. “Sudah lama tidak berjumpa, ya? Akhirnya pertemuan kita kali—ah tidak, maksudku, kau sudah memiliki profesi.”

Hyunwoo mengangguk kembali. “Apakah ini kebetulan? Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu pada kesempatan yang berbeda,” ujar Hyunwoo sedikit lebih santai dari sebelumnya.

Kihyun mengambil sebuah lukisan yang tadinya tergeletak tidak jauh dari kakinya, kemudian menggantungkannya pada jemari tangan kirinya. Hyunwoo pun demikian, membantu Kihyun membereskan beberapa barang yang sebelumnya berserakan disusul bola matanya yang terpekur sejenak memandang lukisan tersebut. Kening pemuda Son itu saling bertaut maksimal, rasa-rasanya kedua maniknya merasakan sensasi aneh saat memfokuskan pandang pada torehan cat minyak tersebut.

“Hyunwoo?”

“Eh, i-iya.”

“Sudah berapa lama menjadi personel pemadam kebakaran?” Kihyun memiringkan wajahnya sedikit saat melihat Hyunwoo tampak terhuyung mundur secara samar.

“Sudah… mungkin delapan bulan.” Hyunwoo mengerjapkan matanya mantap saat bersitatap dengan Kihyun yang mendadak mengubah air mukanya yang tadinya keheranan menjadi sebuah senyuman simpul. “Omong-omong apa yang membuatmu kemari, Detektif Kihyun?”

Kihyun tampak memandang lukisan bergambar bocah laki-laki yang sedang menitihkan air mata tersebut, kemudian beralih menatap Hyunwoo. “Baru saja aku hendak mengurus berkas mengenai kasus orang hilang, namun tiba-tiba rekan satu departemenku memindahtangankan kasus itu. Jadilah seperti ini, aku kemari untuk menyelidiki penyebab insiden kebakaran ini dan temanku lah yang menyelesaikan penyelidikan terhadap orang hilang itu,” ungkap Kihyun panjang lebar disertai desisan kecil yang menguar dari bibirnya. “Kau pasti tahu kan berita orang hilang yang selalu muncul di televisi maupun halaman utama surat kabar?”

Anggukan mantap Hyunwoo disertai mulutnya yang seraya menggumamkan kata ‘oh’ membuktikan bahwa pemuda itu mengetahui apa yang Kihyun bicarakan. Bahkan beberapa saat lalu ia baru saja membicarakan hal itu bersama Wonho saat berada di restoran ayam.

Hyunwoo melamun untuk kedua kalinya, lagi-lagi memandang lukisan itu. Yang entah mengapa sejak tadi—melalui ekor matanya—Hyunwoo merasa bahwa potrait bocah menangis itu memandang semua gerak-geriknya. Seakan kedua bola mata pada lukisan itu berputar-putar, mengintai presensi seorang Hyunwoo dengan seksama. Namun saat pemuda itu melemparkan pandangannya gusar, lukisan itu terdiam layaknya benda mati pada umumnya. Hyunwoo sangat risih, membuat dirinya berbalik badan guna memandang sebuah objek yang sedari tadi dilihat oleh kedua manik pada lukisan itu. Namun apa yang ditemukan Hyunwoo hanyalah bentangan dinding kayu dengan beberapa sisi yang lapuk. Hyunwoo kembali berbalik linglung dan mendapati Kihyun yang melempar tatapan tidak mengerti padanya.

“Hyunwoo? Ada apa?” tanya Kihyun.

“Ti-tidak,” jawab Hyunwoo bohong. “Omong-omong untuk apa kau membawa lukisan itu?” Hyunwoo akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Kihyun sambil melirik kanvas berukuran persegi itu.

Spontan Kihyun mengangkat lukisan itu dan mengarahkan jemarinya untuk meraba permukaannya. “Sebenarnya bukan apa-apa, namun tadi aku melihat lukisan ini terjatuh seperti dilempar oleh seseorang dari ujung loteng.”

Hyunwoo tampak sudah mengerti ke mana arah pembicaraan Kihyun. “Barang bukti?”

“Bisa jadi.”

“Berarti ada seseorang yang mencoba untuk membakar rumah ini?” tanya Hyunwoo penuh selidik. Ia tetap enggan menatap lukisan itu kembali.

Kihyun mengangguk. Diletakkannya lukisan itu di atas lantai. “Sepertinya iya. Saat baru sampai di sini aku melihat sebatang rokok yang masih tersulut api dilempar oleh seseorang lewat ventilasi itu.” Kihyun membelokkan pandangannya ke belakang Hyunwoo, sedangkan lawan bicaranya tampak mencermati. Tidak mustahil memang jika ada yang membuang sesuatu dari sana, karena ventilasi tersebut terletak sangat rendah dan bisa dijangkau dengan mudah.

Tapi tadi George  mengatakan jika villa ini tidak memiliki ventilasi, mengapa aneh sekali?

Kihyun berdeham ringan sambil merapikan jasnya. Tubuhnya membungkuk untuk meraih lukisan yang baru saja ditaruhnya lalu menepuk bahu Hyunwoo. Hyunwoo terdiam, sepertinya Kihyun harus meninggalkan tempat itu secepatnya.

“Aku harus kembali ke kantor sekarang juga. Kolegaku sudah menunggu di sana, omong-omong,” ujar Kihyun lekas berlalu, sebelum ia saling bersitatap dengan Hyunwoo melalui ekor matanya.

“Baiklah, hati-hati di jalan, Detektif Kihyun.” Hyunwoo berputar, mengikuti arah punggung Kihyun yang perlahan menghilang saat menuruni anak tangga.

“Besok pagi mampirlah ke rumahku, Hyunwoo. Ada yang ingin kubicarakan,” teriak Kihyun dari bawah.

Hyunwoo merinding. Ia tersenyum kecut.

 

—To Be Continued—

Advertisements

Author:

aku si penafsir sastra, dan kau si pecandu sastra. literature is exquisite, isn't it?

3 thoughts on “[1st Walkin’ in The Brain] Mauvais Destin (1/2)

  1. UDAH DON PART 1 NYA ITU AJA? UDAH ITU AJA?

    HOROR SIH LUKISAN ITU, BELUM LAGI SEGALA SESUATUNYA, TAPIIII DI LANTAI SATU KEBAKARAN, TERUS KIHYUN DI LANTAI DUA, MASUK LEWAT MANA, MAS? MUNGKINKAH DIA…….. ATAU JANGAN2…….. DISANA GEORGE BILANG GADA VENTILASI TAPI KENAPA KIHYUN……………
    LALU KENAPA HYUNWOO MERINDING DAN TERSENYUM KECUT? KENAPA DENGAN HYONWOO?! KENAPA DENGAN DETEKTIF KIHYUN? JADI….. KIHYUN SAMA HYUNWOO PERNAH KETEMU ATAU TEMEN SD? /EH/

    NEXT DON /PLAK/ CEPETAN APDETNYA KAK DONNA INI KOK GREGET SEKALI SAMPE CAPSLOCKNYA JEBOL BEGINI JEBAL BANTU AKU JEBAL… /PLAK/

    Liked by 1 person

    1. YOI KAKJI PART 1 NYA INI DONG YA HAHAHAHA

      HA

      HA

      SYEM KOK SEREM YA LUKISANNYA /EH/. HAYO SIAPAKAH HYUNWOO DAN KIHYUN ITU? TEMEN SD? BUKAN, MEREKA ADALAH BANG TOYIB YANG TAK PULANG2 /GA/

      SIP KAKJI KULANJUT TAHUN DEPAN KALO INGET /DITEBAS/ DAN MAKASIH UDAH REVIEW YA MWAAAH DITUNGGU KELANJUTANNYA HA HA HA HAAAH HUH HAH

      Liked by 1 person

Leave a comment >>

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s