Posted in Action, Adventure, AU, Friendship, PG-15, Sci-Fic, Slice of Life, Vignette

[1st Walkin’ in The Brain] A Great Team

mxh

A Great Team

For 1st Anniversary MFFI!

by Berly.

Starring : [MX’s] Kihyun & Minhyuk.

Action, Adventure, Sci-Fi, Friendship | Vignette | PG-15

I just own the plot, and this  is just fiction!

No great mind has ever existed without a touch of madnes. — Aristoteles

***

“Kau yakin di sini tempatnya, Kihyun?”

Dalam suasana gelap—hanya ada dua sorot senter—yang menerangi kelamnya waktu-tengah-malam-lebih-seperempat, kedua orang pemuda mengendap masuk ke dalam suatu gedung, untuk sebuah tugas rahasia mencari benda yang begitu berharga.

“Sssst … pelankan suaramu, Minhyuk! Tidak usah banyak bicara, di sini hanya aku yang bisa membaca denah keseluruhan rumah sakit.”

Gedung rumah sakit tua, yang diyakini dihuni oleh berbagai macam manusia berotak gila berada di dalam lingkup itu. Ya, saat ini Kihyun dan Minhyuk tengah ditugaskan untuk mencari sesuatu yang sangat berharga, yaitu; sebongkah otak manusia paling jenius namun kadar kesintingannya tidak dapat diprediksikan oleh nalar telanjang. Tentu bukan perkara mudah bagi mereka berdua untuk mencari tanpa persiapan yang matang, tapi, Kihyun punya beberapa strategi dan satu penemuan alat kecil yang diyakininya bisa dijadikan solusi dalam penyelesaian tugas timnya itu.

“Ya aku tahu, aku hanya meragukannya.”

“Kaupikir kenapa kau disatutimkan denganku oleh Jenderal Son, ha?” Kihyun berdecak kecil sembari melirik tajam Minhyuk, sedikit sebal memang, karena sedari tadi pria yang lebih tinggi darinya itu—Minhyuk—terus-menerus bertanya hal yang tidak penting dan monoton.

Minhyuk menghela napasnya pelan, “Untuk melindungimu dan mengorbankan diri demi otak cerdasmu itu, kan?” Terdengar nada pasrah di ujung ucapan pemuda bernama Minhyuk. Sedangkan sang lawan bicara sedikit membungkam, lantas sepasang maniknya kembali menilik samar mata pria berambut blonde di sampingnya.

“Baguslah bila kau sadar diri. Tapi, kurasa kau tidak hanya berperan sekadar itu dalam tugas ini, Minhyuk. Percayalah, ada alasan kuat lain ketika Jenderal Son memutuskan untuk memilihmu disatutimkan denganku.”

Minhyuk tak merespon apapun setelahnya.

Kihyun kini berdalih menghadap Minhyuk, “Dengarkan aku, sekarang kita berada dalam satu tim yang sama, mau tidak mau kau dan aku harus menyingkirkan segala ego dan bisa menyingkronkan apapun kondisi yang ada bersama. Anggap otakku ini adalah otakmu, juga aku menganggap tubuhmu adalah tubuhku. Kita harus bekerjasama untuk menyelesaikan misi ini dengan saling mengisi kekurangan pada masing-masing diri, … bila memang … kita sama-sama ingin keluar hidup-hidup dari dalam rumah sakit gila ini. Kau mengeti?” Kihyun menepuk-nepuk sebelah pundak Minhyuk, mengalirkan sugesti kuat dan kemistri yang ada untuk kerjasama tim mereka.

Mulut Minhyuk pun berhasil dibungkamkan kembali oleh Kihyun, pria blonde itu memilih mengangguk sekali, tanda mengerti dan menuruti semua perkataan partner-nya. Otak Minhyuk memang tak secerdas otak Kihyun, namun kekuatan, kelincahan, kejelian mata dan material art yang dikuasainya mendapatkan keunggulan tersendiri di dalam tugas rahasia mereka. Bagaimanapun juga, Minhyuk berguna, meski tidak harus memutar-balikkan otaknya untuk menghasilkan sebuah penemuan—semacam penemuan alat milik Kihyun yang tengah digenggam tangan Kihyun detik ini.

Kembali merajut langkah, Kihyun dan Minhyuk bergerak perlahan sembari defensif berjaga. Menelusuri setiap sisi ruang gedung berdasarkan denah yang dibaca Kihyun dengan cermat. Tak jarang mereka berdua pun menghindari security yang sedang berjaga malam itu. Tidak perlu khawatir soal cctv, karena cctv sudah diurus oleh anak buah lain Jenderal Son sebelumnya, omong-omong.

Minhyuk selalu siaga dengan shotgun yang digenggamnya. Kejelian matanya memang bukan main, buktinya saat ada security yang mendadak lewat, tangannya langsung cekatan meraih tubuh Kihyun agar menepi sejenak di balik dinding tertutup. Benar, kan, dugaan Kihyun, Minhyuk memang sangat berguna dalam misi ini. Setidaknya Kihyun bisa tenang dalam menjalankan misi, berkat adanya presensi Minhyuk di sisi.

“Minhyuk, kau ingat tidak perkataan Jenderal Son perihal orang sinting yang mempunyai otak berharga itu?” Di saat mereka berdua telah berhasil lolos dari mata security, Kihyun pun berhenti tak jauh dari hadapan sebuah pintu—hingga Minhyuk yang mengekorinya ikut berhenti di sana. Kini mereka berdua menatap sebuah pintu besi tua yang sangat bau karat juga lembab.

“Eum.” Minhyuk mengangguk mengiyakan sembari bergumam kecil.

“Orang sinting itu saat ini ada di balik lima lapis sekat dari arah pintu besi tua di sana itu.” Kihyun menunjuk pintu di depan mereka menggunakan dagunya, seraya menyorotkan senternya pada denah yang digenggamnya, kemudian Kihyun menunjukkan sebuah lokasi di mana dirinya dan Minhyuk berada saat ini. “Lokasi kita sekarang berada di sini, sedangkan lokasi orang sinting itu ada di …—” telunjuk Kihyun menelusuri lima sekat lurus dari dalam denah dan berhenti di tempat tujuan, “—sini.”

“Omong-omong, kau juga berotak jenius, Kihyun,” gumam Minhyuk, lalu diselingi kekehan kecil dari seorang Kihyun.

“Ya, kau benar, otakku memang jenius. Tapi orang ini jauh lebih jenius daripada otakku. Jenderal Son membutuhkannya untuk bisnisnya kedepan, lantas mungkin setelah misi ini selesai, aku tidak akan dipakai lagi oleh Jenderal untuk membantu urusannyanya.”

“Hey, kenapa kau bilang begitu? Kau sangat berguna untuk Jenderal. Jadi tidak ada alasan kuat untuk Jenderal membuangmu, Bung.”

“Ada, orang yang kita cari adalah salah satu alasan kuat miliknya.” Kihyun menukas perkataan Minhyuk, lelaki bersurai kecokelatan itu terpekur dalam lamunan sejemang. “Dan … aku yakin kalau di antara sekat pintu-pintu besi itu, di salah satu ruangnya terdapat zombie yang berjaga di sana.”

“Apa maksudmu zombie?! Di kota tidak ada yang namanya zombie!” Minhyuk membantah.

Kihyun memiringkan senyumannya, kemudian kembali bersuara, “Belum pernahkah kau melihat zombie dalam kehidupan nyata, Minhyuk? Asal kau tahu, manusia yang dijadikan percobaan sains kedokteran adalah zombie percobaan. Mereka tak jarang dijadikan berpikir seperti binatang di dalam tempat ini. Orang-orang yang mengalami percobaan sintesis tidak akan mengenal kita sebagai satu spesies dengannya. Mungkin saja mereka akan memakan kita di saat kita masuk nanti, lantaran jam segini mereka tengah kelaparan atau kehausan, lantas ingin meminum darah kita sampai habis. Kau tahu sendiri, kan, kalau aku pernah bekerja di sini, makanya aku mengetahui semua seluk-beluk denah rumah sakit ini?”

Peluh sebiji jagung mengalir tragis di pelipis Minhyuk, “Maksudmu, orang-orang percobaan itu adalah kanibal, Kihyun?” Minhyuk memelankan suaranya.

Kihyun mengangguk pelan, “Seperti itulah zombie di dalam dunia nyata, Minhyuk.” Kihyun sejenak menoleh ke arah wajah Minhyuk, “Aku harus menembus kelima sekat itu hingga sekat terakhir—di mana orang yang memiliki otak berharga itu berada. Kali ini, kaulah yang harus berperan lebih dalam menjalankan misi untuk membiarkanku masuk hingga sekat terakhir, lalu akan aku sentuh misi kita dengan sentuhan akhir dengan menemukan manusia-berotak-super itu tanpa menggores kata kegagalan. Apa kau siap, Minhyuk?” Kihyun menatap lekat kedua mata Minhyuk, menyalurkan kemantapan hatinya kepada Minhyuk.

“Demi hidupku dan keluargaku yang penuh dengan hutang budi kepada Jenderal Son, aku rela mati untuk misi ini dalam melindungimu, Kihyun.”

Setelah ucapan mantap terkuar dari bibir Minhyuk, serta merta anggukkan dari kedua manusia itu tergerak, mereka pun kini kembali bergerak gesit. Memasang rakitan bom kecil-namun-mematikan yang dibuat sendiri oleh Kihyun—guna membuka sekat pintu pertama. Begitu seterusnya hingga sekat pintu besi ketiga.

Di dalam sekat pertama dan kedua tidak ada hal yang harus dikhawatirkan, kecuali kedatangan beberapa security yang berlarian dari belakang mereka akibat suara debuman bom kecil yang cukup keras, dan masalah itu berhasil Minhyuk dan shotgun-nya bereskan dalam hitungan detik.

Dalam sekat ketiga, perjalanan mereka tersendat—berkendala oleh satu sosok berbadan tinggi namun kurus yang mendiami ruangan tersebut. Kihyun yakin kalau sosok itu adalah sosok manusia yang dijadikan bahan percobaan hingga tubuhnya menjadi setinggi langit-langit ruangan ketika sosok itu berdiri.

“Inikah zombie yang kau bilang itu, Kihyun? Jelek sekali,” ucap Minhyuk memandang tidak suka akan bentuk yang tertera di hadapannya.

“Yeah, well, aku juga tidak menyangka kalau zombie-nya sekurus ini, Minhyuk. Dan tampaknya dia benar-benar sedang kelaparan sekarang.”

BRAK!!!

Sebuah sapaan dari tangan-tak-berdaging itu membuat Minhyuk terkejut dan berteriak, “Kihyun, lari ke depan!” Minhyuk terkapar cukup jauh bersama bercak darah yang keluar dari sudut bibirnya, senjata Minhyuk ikut jatuh terpisah dari tempatnya tergeletak. Lelaki bersurai blonde itu akan berusaha melumpuhkan lawannya yang-bersosok-aneh dengan kembali bangkit, kemudian memamerkan keahlian material art-nya di depan si Monster, agar Kihyun bisa melalui sekat-sekat berikutnya tanpa kendala.

Namun tampaknya kekuatan material art yang dikuasai Minhyuk tak cukup berguna, kemampuan bela dirinya hanya mampu melumpuhkan sebagian dari tenaga monster tersebut. Lalu di detik setelah Minhyuk susah-payah dapat meraih senjatanya yang tergeletak di sudut ruangan, ia langsung mengarahkan senjatanya dan menembak tanpa ragu ke arah kepala si Monster—pun tak lupa tulang kaki si Monster—hingga sang lawan jatuh di tempat!

Sementara Kihyun, dengan cekatan ia meledakkan kembali pintu sekat keempat. Merasa tak ada kendala yang menghadang langkahnya, dirinya pun membuka sekat terakhir menggunakan penemuan alat kecilnya yang sangat hebat. Sehingga terbukalah pintu itu dengan lancar, bersama munculnya cahaya putih khas ruangan kedokteran di dalam sana.

Menguar bau obat-obatan kimia hingga masuk ke indera penciuman Minhyuk. Monster ceking itu sudah tumbang, omong-omong. Kendati kaki Minhyuk tertusuk suatu besi bekas ledakkan pintu, pria blonde itu tetap berusaha terseok-seok mendekati sumber cahaya di depan sana. Eksistensi Kihyun sudah menghilang di dalam ruangan yang pintunya masih terbuka lebar.

Telinga Minhyuk berdengung tanpa sebab, mengakibatkan pendengarannya hilang samar dalam sejemang—mungkin itu akibat benturan kepala belakangnya terhadap ubin.

Beberapa detik berlalu …

“Minhyuk! Kita mendapatkan orangnya!” Teriakan Kihyun kini dapat Minhyuk dengar dengan jelas. Mata Minhyuk pun mendapati sosok manusia kerdil yang tengah digendong oleh Kihyun di dekapan tangannya. Membuat Minhyuk mengenyitkan dahi—semakin tidak mengeti tentang semua keadaan sosok manusia-manusia aneh di dalam rumah sakit gila ini. Walaupun begitu, Minhyuk tetap tersenyum lebar juga tulus kepada Kihyun, bersyukur kalau misi mereka tidak mengalami kegagalan malam ini.

Samar-samar, kepala Minhyuk menjadi sedikit berat dan pusing akibat aroma zat kimia yang terus menguar dari dalam tak juga menghilang. Ditambah ketidakberdayaannya berdiri akibat kakinya yang luka, membuat fokus Minhyuk menjadi buyar dan memburam. Lalu, pandangannya pun menjadi gelap … pertanda Minhyuk tengah kehilangan kesadarannya di tempat.

.

.

.

Hey, how was your day, Minhyuk?”

Sebersit suara menginterupsi fokus Minhyuk dari pemandangan di luar jendela kamar rawat sebuah rumah sakit. Di waktu pagi menjelang siang, Kihyun mendatangi kamar—untuk perawatan kesembuhan kaki Minhyuk yang digantung dan kepalanya yang diperban. Tak perlu ada yang dikhawatirkan lagi, karena misi mereka berdua sudah sukses tereksekusi sejak dua hari lalu. Berakhir dengan manis-namun-bonyok, karena … Kihyun dan Minhyuk masih terpakai sebagai mata-mata militer rahasia dalam markas milik Jenderal Son.

Bersama perban yang menggulungi satu lengan dan dahi Kihyun, Kihyun menyodorkan sebuah apel merah yang dibawanya dari kamar sebelah—kamar rawat yang dihuni Kihyun sendiri.

“Mau apel?” Kihyun menyodorkan buah apel itu seraya tersenyum lebar kepada Minhyuk. Sedangkan Minhyuk ikut tertawa geli merespon perilaku kaku seorang Kihyun padanya.

“Kau harus memotongkannya kecil terlebih dahulu untukku, Bung,” respon Minhyuk pada akhirnya.

Kihyun pun menurut lantas duduk di bangku yang tersedia, kemudian mengambil pisau di nakas kamar rawat lalu mengupas apelnya untuk Minhyuk. “Baiklah, anggap saja aku berhutang nyawa padamu, kan?”

Bagi Minhyuk, tak perlu memusingkan hal yang terlalu rumit dalam menjalani hidup, bersikap tulus, usaha terus dan nikmati saja hidupmu tanpa adanya beban. Namun bagi Kihyun, berjalan di dalam otak lalu menyelesaikan teka-teki di dalamnya adalah sebagian dari kehidupan sehari-harinya, seperti kata Aristoteles; No great mind has ever existed without a touch of madnes.

Yap, itulah kepribadian mereka berdua yang sangat berbeda namun tetap bisa saling melengkapi, dengan adanya kerjasama satu tim yang hebat untuk menaklukkan sebuah tantangan dalam tanggung jawab pekerjaan, mereka mengabdi terhadap tugas, dan semua jasa itu tak akan luput dalam ranah batin … hingga nanti tiba saatnya mereka pulang … menghilang dari peradaban dunia yang terasa fana ini.

.

.

FIN

  1. Maaf banget kalau alurnya kecepetan. Ini super ngebut buatnya, jadinya super duper absurd juga alurnya /hujan meteor/.
  2. Terima kasih buat yang sudah berkunjung dan meninggalkan jejak!
Advertisements

Author:

I shoudn't want you, but I do. I still write about you, anyway.

3 thoughts on “[1st Walkin’ in The Brain] A Great Team

  1. Hai kak ber aku meracau di pagi yang indah ditemani dengan sinar mentari yang menghangatkan raga serta jiwa /plak
    Okay ini kalau dibikin multichapter penuh dengan teka-teki didalamnya XD aku serasa ikut berpetualang XD

    Aku suka tapi belum puas mungkin aku butuh sequel atau prequel /plak/ /perasaan minta sequel mulu…./

    Aju naiseu kakber XD

    Like

    1. Halo Ji :3 . Iya btw ini grrrrrr alurnya kecepetan jadi maap kalo gak memuaskan dan kurang gereget wkwk. Kayanya emang bener, kalo dijadiin chapter sama alurnya dirapihin lagi bakalan seru binggo adventur ceritanya wkwkwk. Mau kolab sama owe nda Ji? /plak/ XD bikin mini chapter bolelaaah. Pake ide ini. /suka gak nyadar deadline banyak si Berli…..krik/

      Pokoknya makasih dah mampir yha Ji ❤

      Liked by 1 person

Leave a comment >>

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s